Polda Ungkap Kasus Garam Ilegal 50 Ton

Polda Ungkap Kasus Garam Ilegal 50 Ton. (Foto Adi)

Bandarlampung, rakyatmetro.com – Polda Lampung melalui Direktorat Kriminal Khusus berhasil mengungkap peredaran garam tanpa izin edar yang beredar di Kota Bandarlampung.

Dari hasil tangkapan tersebut polisi berhasil mengamankan Hariyanto warga Sukabumi, Way Laga beserta barang bukti berupa garam ber merek UD Tiga Permata.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Lampung Brigjen Pol Angesta Romano Yoyol saat ekspose kasus tersebut mengatakan, Ini merupakan kejahatan pangan, ini sangat berbahaya karena garam diedarkan tanpa izin dari BBPOM, dan sudah beredar di pasar-pasar tradisional.

“Garam ini susah diedarkan di pasar tradisional. Diamankan karena tidak ada izin edar dari BPOM, ini sangat merugikan masyarakat karena bisa menyebabkan penyakit gondok dan pertumbuhan menjadi lambat,” ujar Wakapolda, Kamis (13/9).

Wakapolda menambahkan, dari kemasan yang garam tersebut, tampaknya mereka susah lama beroperasi. “Tapi namanya tersangka, setiap tertangkap dan mengaku baru, tapi saya rasa sudah tahunan mereka menjual garam ilegal ini,” tambahnya.

Kasubdit I Indagsi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Lampung, AKBP Budiman Sulaksono menuturkan, agar masyarakat lebih mengamati kemasan garam yang akan dikonsumsi.

“Kalau secara kasat mata, kita susah membedakan. Sebaiknya masyarakat memperhatikan tulisan izin yang bertuliskan BPOM,” ujarnya.

“Karena produk garam tersebut nantinya akan berdampak pada kesehatan. Mengakibatkan timbulnya penyakit gondok dan membuat pertumbuhan menjadi melambat, atau sering disebut terjangkit penyakit stuntting,” terangnya.

Atas perbuatan tersebut, tersangka dinyatakan melanggar pasal 142 Pelaku Usaha Pangan yakni yang dengan sengaja tidak memiliki izin edar terhadap setiap Pangan Olahan yang dibuat di dalam negeri atau yang diimpor untuk diperdagangkan dalam kemasan eceran, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

“Sementara pasal tersebut yang kita terapkan,” ujarnya singkat.

Tersangka Hariyanto menuturkan, garam tersebut didatangkan dari Jepara, Jawa Tengah. Peredaran garam tersebut sudah berjalan selama enam tahun.

“Per 1 Kilogram dijual Rp 3ribu. Tiap bulan saya pesan 20 Kilogram untuk diedarkan di Kota Bandarlampung,” imbuhnya.

Hariyanto mengaku, dirinya sudah mengurus izin edar sejak tiga tahun lalu, namun berkas yang diajukan nya selalu di anggap belum lengkap.

“Urus izin sudah 3 tahun lalu saya ajukan, namun belum juga keluar,” keluhnya. (Ard)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *